Selamat malam para sahabat netter, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi untuk semua orang tua yang memiliki buah hati, baik anak kandung atau anak yang dalam asuhannya sendiri.

Kadang orang tua terlalu sibuk dengan aktifitas dan kegiatannya sendiri, sampai-sampai buah hati dimasa tumbuh dan berkembangnya dititipkan kepada orang lain, walaupun ibu (baca: nenek) nya sendiri, bahkan ada yang memberikan anak kepada pembantu, yang nota bene bukanlah berasal dari bahagian keluarga, meskipun sudah menjadi kepercayaan oleh orang tua.


Dalam kegiatan dan kesehariannya orang tua bahkan sangat sibuk sekali dengan kegiatannya sendiri, seperti seorang ayah yang sangat sibuk untuk mencari nafkah, harus bangun terlambat karena telat pulang kantor, sehingga tidak berjumpa dengan anak yang pada pagi harinnya sudah berangkat sekolah, atau seorang ibu yang punya kesibukan sebagai wanita karir, adakalanya mengabaikan keperluan sang anak setiap harinya, bahkan hanya untuk urusan arisan dengan teman-temannya.

Yang sangat disayangkan dari orang tua yang demikian adalah ketika anak mengharapkan sesuatu malahan di marahi, dan terkadang kemarahan yang dilimpahkan kepada sang anak tidak terkontrol sama sekali, bahkan tega memukuli buah hati yang dititipkan Allah tersebut kepadanya.

Berikut penulis berikan sepenggal kisah nyata yang dialami oleh seorang anak, karena terabaikan oleh orang tuanya.

Untuk semua orang tua yang anaknya kreatif, bahkan tergolong sangat kreatif, jangan sesekali dipukuli, karena pemukulan terhadap anak adalah tindakan bodoh yang membawa kerusakan kepada sang anak dan berdampak negatif bagi keluarga. Baca kisah nyata yang menyentuh hati ini, cerita seorang anak kecil bernama Ita yang memohon pada papanya untuk mengembalikan tangannya yang hilang.

Tindakan orang tua seharusnya menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati. terkhusus pada anak-anak yang masih kecil dan belum tahu apa-apa. Memberikan pembelajaran dengan cara memukul bukanlah cara yang baik, masih ada cara lain yang lebih mulia, seperti mencontohkan dalam kegiatan sehari-hari, karena sifat anak lebih banyak meniru apa yang ada di depannya.
Papa, Tolong Kembalikan Tangan Ita

Pasangan suami isteri ini dan ribuan pasangan suami isteri lainnya di kota-kota besar meninggalkan anak-anaknya untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal, anak semata wayang pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Nama anak ini sebut saja Ita, ia bermain diluar rumah, bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, pada kesempatan lain memetik bunga matahari, bunga-bunga kertas dan lain-lain di pekarangan rumahnya.

Pada suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Ita mengambil paku itu dan mencoret tembok semen  garasi mobil ayahnya, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak terlihat. karena tidak memberikan hasil Ita mencoretkan paku tersebut pada mobil baru ayahnya. dan tentu saja coretan itu memberikan hasil karena mobil itu berwarna putih, coretannya tampak dengan sangat jelas.

Mobil tersebut sengaja tidak dibawa oleh sang ayah ketempat kerja karena padatnya kota dan jika mengendarai mobil maka akan mengalami kemacetan, dan kemungkinan terlambat sampai ketempat kerja. tidak puas sang anak mencoret penuh sisi sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. dengan kreatifitas dan imajinasinya yang luar biasa sang anak berusaha membentuk gambar hewan yang pernah dilihatnya yaitu gambar ayam dan gambarnya sendiri dan sebagainya. Kegiatan menggambar itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Setelah pulang dari tempat bekerja sang ayah dan ibu ita melihat mobil yang baru saja satu tahun dibeli dengan angsuran, menyicil dengan gaji yang didapat kedua pasangan suami istri itu saat bekerja. Sang ayah yang belum lagi masuk ke dalam rumah serentak berteriak; 'Kerjaan siapa ini?' Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Si Pembantu beristighfar. Mukanya merah padam  tubuhnya menggigil ketakutan ketika melihat wajah bengis tuannya.

Dengan nada yang sangat keras dan kondisi mental yang bengis tuannya mengajukan pertanyaan kepada pembantunya:
Tuan: "Kerjaan Siapa ini?"
Pembantu: "Tak tahu tuan...!"
Sang istri yang baru saja sampai bersama suaminya tersebut juga shok melihat kondisi mobil tersebut, dengan nada keras tanpa tertahan sang nyonya rumah memarahi pembantunya:
Nyonya: "Kamu yang dirumah sepanjang hari, apa saja yang kamu lakukan!" hardiknya

Ita yang mendengar suara ayahnya, dengan gesit berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dan berharap mendapatkan perhatian dia berkata:
Ita: "Ita yg membuat itu papa…. cantik kan?" sambil memeluk papanya ingin bermanja.

Namun apa yang didapat oleh seorang anak yang tidak paham mengenai kondisi itu, si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya tanpa menyadari akibat yang akan timbul dari perbuatannya tersebut. tidak hanya pada bagian telapak tangan sang ayah juga memukuli bahagian belakang tangan Ita. Meski anaknya melolong kesakitan, namun tiada orang yang menahan tindakan si ayah, bahkan ibunya yang berada disana hanya mendiamkan kondisi tersebut, seakan-akan mengizinkan dan redho dengan tindakan suaminya untuk memukuli si buah hati yang tak tahu apa-apa. tangan yang dipukuli tidak hanya bagian kanan saja bahkan kedua tangan anaknya sampai luka dan berdarah.
Anak adalah harta yang paling berharga
tidak bisa dibandingkan dengan
kemewahan lainnya
Serasa sebal dengan apa yang dihadapinya hari itu si ayah tanpa peduli meninggalkan sang anak dalam kondisi kesakitan karena dipukuli, begitu juga sang ibu juga tidak mempedulikan Ita dan berlalu begitu saja memasuki rumahnya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Satu malam sudah berlalu keesokkan hari, kedua belah tangan Ita bengkak. Menyaksikan kondisi Ita pembantu rumah mengadu kepada taunnya. Namun jawaban yang didapat: 'Oleskan obat saja!' jawab tuannya. Pada hari itu si ayah masih merasa marah kepada Ita, sepulang dari tempat kerja si ayah tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. sang ayah bermaksud memberikan pelajaran kepada si anak atas perbuatannya mencoret mobil satu-satunya bahkan sampai tiga hari si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si Ibu juga melakukan hal yang sama tanpa sadar berapa umur anaknya dan seberapa pengetahuan anaknya. namun tetap bertanya kepada pembantu rumah dan jawaban pembantu rumah "Ita demam" namun ditimpali jawaban "Kasih minum obat penurun panas."

Pada hari keempat, pembantu rumah memberitahu tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. Jawaban tuannya singkat:"'Sore nanti kita bawa ke klinik." namun apa yang terjadi, karena sudah terlalu lama dan keadaan Ita sudah sangat lemah karena menahan rasa sakit menyebabkan keadaannya sangat serius sekali akhirnya sesampai di klinik dokter mengarahkan untuk merujuk Ita ke rumah sakit. setelah dibawa kerumah sakit dan dirawat selama seminggu, Dokter memanggil kedua orang tua Ita

Dokter mengatakan bahwa "Sudah Tidak ada pilihan.." katanya kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.

"Tangan anak anda sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawa anak anda kedua tangannya perlu dipotong dari bagian siku ke bawah" kata dokter.

Kedua orang tua ita bagaikan disambar petir disiang bolong, tidak tahu apa yang akan diucapkan bahkan untuk mengungkapkan satu katapun tidak juga bisa. bagi kedua pasang suami istri tersebut dunia berhenti dan tak ada makhluk hidup yang bisa bergerak satupun juga. si ibu meraung kemudian merangkul ita, dengan berat hati dan deraian air mata, ayah ita menggigil dan tangannya bergetar saat menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Setelah selesai pembedahan, setelah obat bius habis, Ita menangis kesakitan, ketika ditambah dengan kesadaran baru bahwa tangannya sudah dibaluti dengan kain kasa putih. Ita menatapi muka ayah dan ibunya. kemudian melayangkan pandangan mata kewajah pembantunya. dengan wajah keheranan menatap wajah mereka semua yang sedang menangis, dalam deraian air mata dan penuh penyesalan Ita bersuara.

"Papa...Mama...Ita tidak akan jahat lagi, tidak akan melakukan kesalahan lagi, Ita tidak pengen papa memukuli Ita lagi, Ita sayang mama...sayang papa. menyebabkan sang ibu bertambah sedih dan tak kuasa menahan tangisannya.

"Papa...mana tangan ita...kembalikan tangan Ita. kenapa tangan Ita diambil...Ita janji sama papa nggak akan mengulangi lagi...bagaimana Ita makan nanti, Bagaimana Ita bermain tanpa tangan Ita. Ita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi" katanya berulang-ulang.

Kedua orang tua ini mati rasa, tak bisa berkata apa-apa, karena semuanya sudah terjadi dan waktu tidak bisa diputar kembali, hanya deraian air mata yang mengalir dalam keadaan membeku, jika habis air mata ini darahpun akan dikeluarkan oleh mata si ibu...karena tidak kuasa menahan rasa sedih dan penyesalan yang mendalam.

Sahabat Netter ternyata beberapa orang tidak sadar dengan apa yang sedang mereka perbuat, dan beberapa orang separoh dalam kesadarannya, yang lainnya seolah tidak menyadari bahkan tidak mau menyadari kesalahan yang telah dilakukkannya. jika hal ini terjadi pada diri kita dan keluarga maka kita akan menagalami penyesalan di kemudian harinya.

Anak adalah Fitrah yang harus dijaga

Dari kisah diatas kita dapat mengambil banyak pelajaran, baik sebagai orang tua, bahkan bagi pasangan baru menikah atau bahkan bagi pemuda dan pemudi yang akan menikah, jika nanti memiliki anak maka berikanlah contoh yang baik bagi mereka. jangan sanpai hanya tahu memarahi mereka ketika kita melihat kesalahan si anak, karana anak hanya meniru apa yang ada di depannya, tindakan mereka masih polos masih apa adanya. 

Anak adalah Fitrah yang harus dijaga, jika ingin anak baik maka lakukanlah kebaikan, baik di depan maupun di belakang mereka, jika anak salah itu hanyalah kesalahan kita, yang kurang memperhatikan dan bahkan cuek dengan mereka, tidak ujuk-ujuk memarahi buah hati dan darah daging kita sendiri.

Anak adalah sumber amal ibadah kita, karena anak yang sholeh bisa memasukkan kita kesurga dan melapangkan kubur bagi kita setelah meninggal dunia, didunia anak akan memberikan kasih sayang kepada orang tua yang mengasihi dan menyayanginya.

Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan anak sholeh
Semoga kita tidak menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua kita
Ammiiiin

4 comments:

  1. setuju sama agan orang tua juga harus sadar pendidikan
    www.epiticia.com

    ReplyDelete
  2. setuju banget

    Keren informasinya bro..Sangat dibutuhkan.

    Maen juga di blog ane
    Koplak-ngakak.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Semua orang tua pasti mencintai anak mereka, tapi cara menunjukkannya berbeda-beda... :)

    ReplyDelete