Assalamualaikum wr wb
Sahabat netizeninfo.com artikel ini berjudul "Ibu? Maafkan Kami Jika Melukai Hatimu yang Lembut Penuh Kasih Sayang"

Kisah berikut disampaikan oleh seorang senior saya dalam pesan group di media sosial yang sedang berkembang, dalam selah diskusi tersebut beliua (senior) menyempatkan diri utuk bercerita dengan sangat arif dan bijaksana memberikan informasi dan tausiah, agar kita tetap menjadi orang yang selalu baik dimana saja, dan salah satu kisah yang sangat menyentuh hati ini disampaikannya. saya tidak tahu entah berapa lama beliau mengetikkan cerita ini dan berapa energi yang beliau keluarkan, oleh karena itu agar tambah bermanfaat saya membagikannya kepada sahabat supaya menjadi bahan renungan dan pembelajaran bagi kita semua. 

Ada satu kisah nyata yang sangat BERHARGA, diceritakan seorang trainer kubik leadership yang bernaman Jamil Azzaini di kantor Bea dan Cukai Tipe A Bekasi sekitar akhir tahun 2005. Dalam berceramah agama, beliu menceritakan satu kisah dengan sangat APIK dan membuat air mata pendengar berurai, Berikut ini adalah kisahnya:

Pada akhir tahun 2003, istri saya selama 11 malam tidak bisa tidur, Saya sudah berusaha membantu agar istri saya bisa tidur, dengan membelai, diusap-usap, masih susah tidur juga, Sungguh cobaan yang sangat berat, Akhirnya saya membawa istri saya ke RS Citra Insani yang kebetulan dekat dengan rumah saya, Sudah 3 hari diperiksa tapi dokter tidak menemukan penyakit istri saya.


Kemudian saya pindahkan istri saya ke RS Azra, Bogor, selama berada di RS Azra, istri saya badannya panas dan selalu kehausan, setelah dirawat tiga bulan di RS Azra, penyakit istri saya belum juga diketahui penyakitnya.

Akhirnya saya putuskan untuk pindah ke RS Harapan Merdeka di Jakarta dan langsung dirawat di ruang ICU. Satu Malam di ruang ICU pada waktu itu senilai Rp 2,5 juta. Badan istri -maaf- tidak memakai sehelai pakaianpun. Dengan ditutupi kain, badan istri saya ditutupi kabel yang disambungkan ke monitor untuk mengetahui keadaan istri saya. Selama 3 minggu penyakit istri saya belum bisa teridentifikasi, tidak diketahui penyakit apa sebenarnya.

Kemudian pada minggu ke-tiga, seorang dokter yang menangani istri saya menemui saya dan bertanya,
"Pak Jamil, kami minta izin kepada pak Jamil untuk mengganti obat istri bapak."
"Dok, kenapa hari ini dokter minta izin kepada saya, padahal setiap hari saya memang gonta-ganti mencari obat untuk istri saya, lalu kenapa hari ini dokter meminta izin?"
"Ini beda pak Jamil. Obatnya lebih mahal dan obat ini nantinya disuntikkan ke istri bapak."
"Berapa harganya dok?"
"Obat untuk satu kali suntik 12 juta pak." "Sehari 3 kali suntik."
"Berati sehari 36 juta dok?"
"Iya pak Jamil."
"Dok, 36 juta bagi saya itu besar sedangkan tabungan saya sekarang hampir habis untuk menyembuhkan istri saya. Tolong dok, periksa istri saya sekali lagi. Tolong temukan penyakit istri saya dok."
"Pak Jamil, kami juga sudah berusaha namun kami belum menemukan penyakit istri bapak, kami sudah mendatangkan perlengkapan dari RS Cipto dan banyak laboratorium namun penyakit istri bapak tidak ketahuan."
"Tolong dok..., coba dokter periksa sekali lagi. Dokter yang memeriksa dan saya akan berdoa kepada Rabb saya. Tolong dok dicari"
"Pak Jamil, janji ya kalau setelah pemeriksaan ini kami tidak juga menemukan penyakit istri bapak, maka dengan terpaksa kami akan mengganti obatnya." kemudian dokter memeriksa lagi.
"Iya dok."
Setelah itu saya pergi ke mushola untuk shalat dhuha dua raka'at. Selesai shalat dhuha. saya berdoa dengan menengadahkan tangan memohon kepada Allah, -setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah,
"Ya Allah, ya Tuhanku....., gerangan maksiat apa yang aku lakukan. Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga Engkau menguji aku dengan penyakit istriku yang tidak kunjung sembuh. Ya Allah, aku sudah lelah. Tunjukkanlah kepadaku ya Allah, gerangan energi negatif apakah yang aku lakukan sehingga istriku sakit dan tak kunjung sembuh? Sembuhkanlah istriku Ya Allah. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur Milyaran planet di muka bumi ini ya Allah."

Kemudian secara tiba-tiba ketika saya berdoa, "Ya Allah, gerangan maksiat apa yang pernah aku lakukan? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga aku diuji dengan penyakit istriku tak kunjung sembuh?" saya teringat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu, yaitu ketika saya mengambil uang ibu sebanyak Rp 150,-.


Dulu, ketika kelas 6 SD, SPP saya menunggak 3 bulan. Pada waktu itu SPP bulanannya adalah Rp25,. Setiap pagi wali kelas memanggil dan menanyakan saya, "JaMil, kapan membayar SPP? JaMil, kapan membayar SPP? JaMil, kapan membayar SPP?" Malu saya. Dan ketika waktu istirahat saya pulang dari sekolah saya menemukan ada uang Rp150, di bawah bantal ibu saya. Saya mengambilnya. Rp75,- untuk membayar SPP dan Rp75,- saya gunakan untuk jajan.

Saya kemudian bertanya, kenapa ketika berdoa, "Ya Allah, gerangan maksiat apa? Gerangan energi negatif apa yang aku lakukan sehingga penyakit istriku tak kunjung sembuh?" saya diingatkan dengan kejadian kelas 6 SD dulu ketika saya mengambil uang ibu. Padahal saya hampir tidak lagi mengingatnya??.  Maka saya berkesimpulan mungkin ini petunjuk dari Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan istri saya sakit tak kunjung sembuh dan tabungan saya hampir habis. setelah itu saya menelpon ibu saya,
"Assalamu'alaikum Ma...."
"Wa'alaikumus Salam Mil...." Jawab ibu saya.
"Bagaimana kabarnya Ma?"
"Ibu baik-baik saja Mil."
"Trus Bagaimana kabarnya anak-anak Ma?"
"Mil, mama jauh-jauh dari Lampung ke Bogor untuk menjaga anak-anakmu. Sudah kamu tidak usah memikirkan anak-anakmu, kamu cukup memikirkan istrimu Mil, bagaimana kabar Ria nak?" -dengan suara terbata-bata dan menahan sesegukan isak tangisnya-.
"Belum sembuh Ma."
"Yang Sabar ya Mil."
Setelah lama berbincang sana-sini-dengan menyeka butiran air mata yang keluar-, saya bertanya:
"Ma...., Mama masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu?"
"Yang mana Mil?"
"Kejadian ketika Mama kehilangan uang Rp150,- yang tersimpan di bawah bantal?"
Kemudian dari balik ujung telephon yang nun jauh di sana, Mama berteriak, (ini yang membuat bulu roma saya merinding setiap kali mengingatnya)
"Mil, sampai Mama meninggal, Mama tidak akan melupakannya." (suara mama semakin pilu dan menyayat hati),
"Gara-gara uang itu hilang, Mama dicaci-maki di depan banyak orang. Gara-gara uang itu hilang mama dihina dan direndahkan di depan banyak orang. Pada waktu itu Mama punya hutang sama orang kaya di kampung kitaMil. Uang itu sudah siap dan Mama simpan di bawah bantal namun ketika Mama pulang, uang itu sudah tidak ada. Mama memberanikan diri mendatangi orang kaya itu, dan memohoh karena uang yang sudah mama siapkan hilang.
Mendengar alasan Mama, orang itu merendahkan Mama Mil. orang itu mencaci-maki Mama Mil. orang itu menghina Mama Mil, padahal disitu banyak orang.....rasanya Mil. Mamamu direndahkan di depan banyak orang padahal bapakmu pada waktu itu guru ngaji di kampung kita Mil tetapi Mama dihinakan di depan banyak orang. SAKIT....SAKIT....SAKIT rasanya."

Dengan suara sedu sedan setelah membayangkan dan mendengar penderitaan dan sakit hati yang dialami Mama pada waktu itu, saya bertanya,
"Mama tahu siapa yang mengambil uang itu?"
"Tidak tahu Mill..Mama tidak tahu."
Maka dengan mengakui semua kesalahan, saya menjawab dengan suara serak,
"Ma, yang mengambil uang itu saya Ma...., maka melalui telephon ini saya memohon keikhlasan Mama. Ma, tolong maafkan Jamil Ma..., Jamil berjanji nanti kalau bertemu sama Mama, Jamil akan sungkem sama Mama, Maafkan saya Ma, maafkan saya...."
Kembali terdengar suara jeritan dari ujung telephon sana;

"Astaghfirullahal "Azhim....Astaghfirullahal "Azhim....Astaghfirullahal "Azhim.... Ya Allah ya Tuhanku, aku maafkan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Maafkanlah dia Allah, ridhoilah dia Ya Rahman, Ampunilah dia ya Allah."
"Ma, benar Mama sudah memaafkan saya?"
"Mil, bukan kamu yang harus minta maaf. Mama yang seharusnya minta maaf sama kamu Mil karena terlalu lama Mama memendam dendam ini. Mama tidak tahu kalau yang mengambil uang itu adalah kamu Mil."
"Ma, tolong maafkan saya Ma. Maafkan saya Ma?"
"Mil, Sudah lupakan semuanya. semua kesalahanmu sudah saya maafkan, termasuk mengambil uang itu."
"Ma, tolong iringi dengan doa untuk istri saya Ma agar cepat sembuh."
"Ya Allah, ya Tuhanku...pada hari ini aku telah memaafkan kesalahan orang yang mengambil uangku karena ia adalah putraku. Dan juga semua kesalahan-kesalahanya yang lain. Ya Allah. Sembuhkanlah penyakit menantu dan istri putraku Ya Allah."
Setelah itu, saya tutup telephon dengan mengucapkan terimakasih kepada mama. Dan itu selesai pada pukul 10.00 WIB, dan pada pukul 11.45 WIB seorang dokter memandangi saya sembari berkata:
"Selamat pak Jamil. Penyakit istri bapak sudah ketahuan."
"Apa dok?"
"Infeksi prankreas."
Saya terus memeluk dokter tersebut dengan berlinang air mata kebahagiaan,
"Terima kasih dokter, terima kasih dokter, terima kasih, terima kasih dok."
Selesai memeluk, dokter itu berkata,
"Pak Jamil, kalau boleh jujur, sebenarnya pemeriksaan yang kami lakukan sema dengan sebelumnya. Namun pada hari ini terjadi keajaiban, istri bapak terkena infeksi prankreas, Dan kami meminta izin kepada pak Jamil untuk mengoperasi cesar istri bapak terlebih dahulu mengeluarkan janin yang sudah berusia 8 bulan. Setelah itu baru kita operasi agar lebih mudah."
Setelah selesai, dan saya pastikan istri dan anak saya selamat, saya kembali ke Bogor untuk sungkeman kepada Mama, bersimpuh minta maaf kepadanya:
"Terima kasih Ma......,terima kasih Ma."
Namun...., itulah hebatnya seorang ibu. saya yang bersalah namun justru Mama yang meminta maaf.
"Bukan kamu yang harus meminta maaf Mil, Mama yang seharusnya minta maaf."

Sahabat...Sungguh benar sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam:
"Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim)
Dalam hadis lain disebutkan bahwa:
"Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang teraniaya. Doa mereka diangkat Allah ke atas awan dan dibukakkan baginya pintu langit dan Allah bertitah, 'Demi Keperkasaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Attirmidzi)
Kita dapat mengambil HIKMAH bahwa:

  • Bila kita seorang anak...... jangan sekali-kali membuat marah orang tua, karena murka mereka akan membuat murka Allah subhanahu wa ta'ala. Dan bila kita ingin selalu diridhoi-Nya maka buatlah selalu orang tua kita ridho kepada kita.
  • Jangan sampai kita berbuat zholim atau aniaya kepada orang lain, apalagi kepada kedua orang tua, karena doa orang yang teraniaya itu terkabul.
  • Bila kita sebagai orang tua....Berhati-hatilah pada waktu marah kepada anak, karena kemarahan kita dan ucapan kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dan kadang penyesalan adalah ujungnya.
  • Doa orang tua adalah makbul, bila kita marah kepada anak, Berdoalah untuk kebaikan anak-anak kita, maafkanlah mereka.
  • Semoga kita dikaruniai anak keturunan yang shaleh dan shalehah, yang pintar dan kreatif dan menjadi kebanggaan kita dalam kebaikan, Aamiin.
Sahabat netizeninfo.com demikianlah cerita yang tersusun hari ini semoga kata demi kata yang tersusun ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita dan menjadi motifasi bagi kita untuk memompa semangat selalu berbuat baik kepada kedua orang tua dan kita juga berdaoa untuk keduanya supaya Beliau dibahagiakan dunia dan akhirat, kemudian ucapan terimakasih untuk siapa saja yang telah memberikan kisah-kisah atau kata-kata serta cerita-cerita inspiratif kepada kita semua.


19 comments:

  1. Menyentuh banget gan, jadi keinget emak :(

    ReplyDelete
  2. menyentuh banget gan.. ibu emang harta sepanjang masa

    ReplyDelete
  3. Ya Allah jadi keinget ibu saya yang meninggal 3 tahun lalu :'(

    ReplyDelete
  4. Kesalahan di masa lalu bisa saja terbalas di masa yang akan datang. Itu pelajaran yang dapat diambil dari kisah Pak Jamil.

    ReplyDelete
  5. jadi sedih sama jadi sadar akan banyak kesalahan sama ibu

    ReplyDelete
  6. terimaksih atas kunjungannya gan
    semoga bikin kita tambah cinta sama kedua ortu
    menambah inspirasi dan semangat demi orang tua yang kita cintai

    ReplyDelete
  7. jadi terharu gan ibu memang harta yang paling berharga buat kita.
    nice

    ReplyDelete
  8. jadi kangen :(
    sayang.. ane terpaut jarak ribuan km denganya :'(

    ReplyDelete
  9. Jasa ibu memang besar buat hidup kita,,kita tidak bisa membalas dengan hal apapun kecuali kita harus bisa menghormati, menyayangi dan mendo'akan ibu kita..
    nice artikel gan

    ReplyDelete
  10. terharu gan, jadi takut kalau ibu pergi:')

    ReplyDelete